Berita

Pengurus SMSI Kalsel Audiensi ke Danrem 101/Antasari

46
×

Pengurus SMSI Kalsel Audiensi ke Danrem 101/Antasari

Share this article

BANJARMASIN – Serikat media Siber Indonesia (SMSI) Kalimantan Selatan yang menaungi pemilik media online. Diharapkan eksistensinya semakin profesional, menaati kode etik kewartawanan dan tak keluar dari tujuan. Harapan ini disampaikan Danrem 101/Antasari Brigjen TNI Rudi Puruwito SE saat menerima audiensi pengurus SMSI Kalsel di Makorem 101/Antasari, Rabu (13/7/2022).

“SMSI Kalsel sebagai sebuah organisasi memiliki tujuan yang sama membangun Indonesia semakin maju dan lebih baik lewat kanal pemberitaan anggotanya di media online,” katanya.

Kata Danrem, keberadaan media online unggul dalam kecepatan untuk memberikan informasi. Berita di upload secara langsung dalam hitungan menit atau detik. Dengan demikian mempercepat distribusi informasi ke masyarakat, dengan jangkauan global via jaringan internet, dan dalam waktu beriringan.

“Berita lewat media online akan cepat diterima oleh semua kalangan mulai dari anak-anak, tukang becak, pedagang bakso, pejabat, dll yang memiliki ponsel. Untuk itu pemilik media online harus profesional dan hati-hati dalam menyampaikan berita. Berita harus cek and ricek, balance, akurat dan berdasarkan fakta. Jangan sampai kita baru mendengar data sepenggal, lalu dimasukkan  di dalam berita online, ternyata berita itu akan jadi suatu kegaduhan, karena keterangan yang didapat tidak valid,” pesan Danrem.

Menurut Danrem, ketika memasukkan suatu berita dalam berita Online, harus siap bertempur apabila ada nanti pihak-pihak yang merasa tidak nyaman akan memberikan melaporkan balik kepada kita. Sehingga ketika menulis di Media Online itu, yakin sudah melakukan langkah-langkah, apabila ada yang complain atau disebut serangan balik kepada kita.

“Sehingga kita bertanggungjawab dan merasa apa yang kita beritakan itu adalah sesuai dengan data dan fakta yang ada di lapangan. Mungkin data benar. Fakta benar. Tapi analisis salah. Itu sering terjadi,” Danrem mengingatkan.

Dicontohkan, ada anak yang pergi ke sekolah naik bak. Berita itu tidak salah, benar. Fotonya ada. Disana naik di atas perahu bak plastik, benar. Dan berseragam sekolah, benar. Tetapi berita itu  membuat analisis orang menjadi salah.

Artinya bahwa daerah itu terkesan banjir. Padahal jaman itu mulai dari jaman Belanda daerahnya rawa. Yang kedua, dia bersekolah itu bukan kebiasaannya seperti itu. Itu hanya pas bermain pulang sekolah, dia bermain dengan teman-temannya di atas air, bersenang-senang, sambil naik di atas bak plastik. Terberitakan bahwa daerah itu banjir, anak sekolahnya masih naik bak, dan tidak terperhatikan oleh Pemerintah setempat.

“Itulah. Beritanya benar. Datanya benar. Tetapi membuat asumsi publik, salah. Maka dari itu penjelasan di dalam berita juga harus jangan menimbulkan multi tafsir. Kalau judul berita menarik, itu adalah yang pasti. Judul berita itu tidak menjawab pertanyaan, juga harus pasti. Karena kalau judul berita itu sudah menjawab pertanyaan, orang tidak mau baca.

Judulnya itu memang harus membuat orang penasaran untuk membaca. Itu adalah  keahliaan media. Tapi berita itu harus berbobot dalam arti tajam, akurat, terpercaya. Tentunya menarik dan mempunyai nilai untuk membangun.

Jangan hanya berita itu menyudutkan saja, tidak ada nilai beritanya. Berita juga jangan menulis bersifat provokasi. Walaupun benar, tetapi kalau diberitakan, akan menimbulkan akibat atau dampak yang lebih buruk.

Berarti harus berfikir. Kalau diberitakan, walaupun datanya benar, tapi akan menimbulkan suatu efek yang kurang bagus. Yang hal ini membuat Bangsa ini tidak lebih maju, tapi akan menjadi masalah baru, seperti contioh ada mahasiswa melakukan demo yang sebenarnya kecil. Namun dibuat seolah-olah ada aksi demo dalam satu hari di seluruh Indonesia, dilakukan di seluruh daerah secara serentak. Padahal aksi demo itu hanya cuplikan dari aksi sebelumnya.

“Hanya karena adanya ketidak puasan dengan kebijakan pemerintah, dalam berita kadang-kadang dikemas seolah-olah aksi demo begitu besar untuk memberikan kesan heboh. Padahal aksi itu dilakukan pada waktu dan hari yang berbeda, tahunnya berbeda. Tapi dikemas dalam satu hari dalam satu kali berita,” ujarnya. (rel)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *