Jakarta,Pojokindonesia.com – Dalam sunyi perjuangan yang seringkali tak terdengar, berdirilah sosok Dr. Pangeran Gusti Surian, S.Ag., M.Pd, – seorang tokoh pendidikan yang tanpa pamrih terus mengadvokasi para guru honorer di seluruh penjuru negeri. Beliau hadir bukan sekadar sebagai pemimpin organisasi, tetapi sebagai pejuang yang konsisten memperjuangkan hak-hak dan kesejahteraan guru, profesi yang menjadi tulang punggung peradaban bangsa.
Melalui berbagai jalur perjuangan, PGS telah menjadikan advokasi sebagai panggilan hidupnya. Ia aktif melakukan audiensi dengan para pemangku kebijakan di level eksekutif maupun legislatif. Beliau menyambangi fraksi-fraksi partai politik, mengikuti rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi X DPR RI, hingga berdiskusi dengan Komite III DPD RI yang membidangi urusan pendidikan. Semua itu dilakukan dengan satu tujuan mulia: memperjuangkan kehidupan yang layak bagi para guru di negeri ini.
Ironisnya, di balik megahnya gedung-gedung pendidikan dan jargon “pahlawan tanpa tanda jasa”, masih ada guru-guru yang digaji hanya Rp200.000 per bulan—angka yang bahkan tidak cukup untuk kebutuhan hidup dasar. PGS menyuarakan ketimpangan ini dengan lantang, menuntut keadilan agar profesi guru benar-benar dihormati dan diberi penghargaan yang pantas.
Buah dari perjuangan panjang ini mulai tampak. Ribuan guru honorer telah berhasil diangkat menjadi ASN—sebuah titik terang di tengah kabut ketidakpastian. Bagi PGS, ini bukan hanya soal data statistik, tetapi tentang martabat, pengakuan, dan harapan yang akhirnya menjadi nyata.
Pada peringatan Milad ke-17 Persatuan Guru Madrasah (PGM) Indonesia, perjuangan Dr. Pangeran Gusti Surian mendapat pengakuan istimewa. Beliau dianugerahi PGM Award oleh Pengurus Pusat PGM Indonesia—sebuah penghargaan yang merefleksikan dedikasi, keberanian, dan komitmen luar biasa dalam membela dan memperjuangkan para guru madrasah di Indonesia.
Penghargaan ini bukan akhir dari perjuangan, melainkan batu loncatan untuk terus bergerak, bersuara, dan melindungi mereka yang selama ini terpinggirkan. Karena bagi PGS, selama masih ada satu guru yang hidup dalam keterbatasan, maka perjuangan belum usai.
“Kesejahteraan guru bukan sekadar angka, tapi cermin harga diri bangsa,” ujar PGS dalam setiap advokasinya.
Mari kita dukung lebih banyak sosok seperti Dr. Pangeran Gusti Surian ,yang tidak hanya berbicara, tapi bertindak nyata demi masa depan pendidikan Indonesia.(*Indra)











