Jakarta,pojokindonesia.com – Peringatan Hari Kebangkitan Nasional tidak semestinya berhenti sebagai seremoni tahunan yang dipenuhi slogan dan formalitas. Momentum lahirnya Budi Utomo pada 1908 perlu dimaknai kembali sebagai titik kesadaran kolektif bangsa bahwa kemajuan Indonesia hanya dapat dibangun melalui pendidikan, persatuan, dan peradaban yang berakar pada nilai-nilai kemanusiaan.
Pandangan tersebut disampaikan Ketua Umum PP Perkumpulan Guru Cendekia Cinta Anak Negeri (PGCN), Dr. Pangeran Gusti Surian, dalam refleksi Hari Kebangkitan Nasional 2026 melalui webinar bertajuk “Merajut Kebangkitan Lewat Pendidikan Inklusif dan Madrasah Berintegritas: Dari Madrasah untuk Peradaban”.
Menurut PGCN, tantangan bangsa saat ini memang berbeda dibandingkan era perjuangan kemerdekaan. Indonesia tidak lagi menghadapi penjajahan dalam bentuk fisik, tetapi berhadapan dengan ancaman yang tidak kalah serius, seperti ketimpangan akses pendidikan, krisis karakter, kekerasan di lingkungan sekolah, degradasi moral, hingga memudarnya nilai kemanusiaan dalam proses pendidikan.
“Ruang kelas hari ini adalah medan perjuangan baru bangsa Indonesia. Guru bukan sekadar pengajar, melainkan penjaga peradaban,” ujar Ketua Umum PP PGCN.
PGCN menilai, semangat Kebangkitan Nasional harus diterjemahkan ke dalam gerakan nyata melalui penguatan pendidikan inklusif dan pembangunan madrasah yang berintegritas. Pendidikan, dalam pandangan organisasi tersebut, bukan semata ruang transfer ilmu pengetahuan, melainkan wahana pembentukan watak bangsa.
Bagi PGCN, pendidikan inklusif bukan sekadar konsep administratif atau kebijakan formal, melainkan komitmen moral bahwa setiap anak Indonesia berhak memperoleh pendidikan yang aman, setara, dan bermartabat tanpa diskriminasi apa pun. Sekolah harus menjadi ruang yang menghadirkan rasa aman, penghormatan, dan harapan bagi seluruh peserta didik, termasuk anak-anak dari kelompok rentan dan mereka yang memiliki keterbatasan akses pendidikan.
“Tidak boleh ada anak yang merasa tertinggal atau ditinggalkan dalam pendidikan,” tegasnya.
Di sisi lain, PGCN menempatkan madrasah sebagai salah satu pilar penting pembangunan karakter bangsa. Madrasah dinilai memiliki posisi strategis dalam melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual, sosial, dan moral.
Menurut PGCN, bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi, melainkan juga oleh kualitas akhlak manusianya. Karena itu, integritas pendidikan harus menjadi fondasi utama dalam membangun masa depan Indonesia.
“Indonesia tidak cukup hanya melahirkan generasi pintar. Indonesia membutuhkan generasi yang cerdas pikirannya, bersih hatinya, kuat spiritualnya, dan mulia perilakunya,” lanjut pernyataan tersebut.
Sebagai organisasi profesi sekaligus gerakan sosial pendidikan, PGCN menegaskan bahwa seluruh gerakannya dibangun di atas nilai utama: cinta kepada anak negeri. Filosofi tersebut diwujudkan melalui berbagai program, mulai dari penyiapan Generasi Emas Indonesia, penguatan keseimbangan kecerdasan guru, advokasi perlindungan siswa dan guru, hingga peningkatan kompetensi pedagogik pendidik di berbagai daerah.
PGCN juga menyoroti pentingnya keterlibatan seluruh elemen bangsa dalam menyelamatkan dunia pendidikan dari berbagai persoalan sosial yang mengancam generasi muda, seperti perundungan (bullying), stunting, pernikahan dini, penyalahgunaan media digital, hingga pergaulan bebas.
Organisasi itu menilai bahwa kebangkitan nasional pada abad ini tidak lagi cukup dimaknai sebatas pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi. Kebangkitan Indonesia, menurut PGCN, harus dimulai dari tumbuhnya kesadaran kolektif untuk memuliakan pendidikan dan memanusiakan peserta didik.
Dalam momentum Hari Kebangkitan Nasional 2026, PGCN mengajak seluruh guru Indonesia untuk kembali menyalakan semangat pengabdian dan menjadikan sekolah serta madrasah sebagai pusat tumbuhnya harapan bangsa.
“Ketika guru bergerak dengan cinta, maka bangsa akan bangkit dengan martabat,” demikian pesan penutup PGCN dalam refleksi Hari Kebangkitan Nasional tahun ini.
Tentang PGCN
Perkumpulan Guru Cendekia Cinta Anak Negeri (PGCN) merupakan organisasi yang bergerak di bidang penguatan pendidikan, pengembangan kompetensi guru, perlindungan anak, serta pembangunan karakter generasi bangsa berbasis nilai kemanusiaan, cinta, dan integritas.
Indra












