Daerah

“Warga Sesak Dihantam Asap, Istri Sekdaprov Kalsel Malah Pesta Bak ABG: ‘Gila Validasi!’”

×

“Warga Sesak Dihantam Asap, Istri Sekdaprov Kalsel Malah Pesta Bak ABG: ‘Gila Validasi!’”

Share this article
“Warga Sesak Dihantam Asap, Istri Sekdaprov Kalsel Malah Pesta Bak ABG: ‘Gila Validasi!’”

BANJARMASIN – Nama Masrupah Syarifuddin menjadi sorotan setelah perayaan ulang tahunnya yang ke-58 ramai diperbincangkan di media sosial.

Istri Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan (Sekdaprov Kalsel) Muhammad Syarifuddin itu diketahui menggelar perayaan ulang tahun di salah satu restoran di Banjarmasin, Jumat (28/8/2026).

Perayaan tersebut mengusung tema “Kembali Muda” dengan konsep seragam sekolah menengah atas (SMA). Sejumlah tamu undangan juga tampil mengenakan seragam SMA, menciptakan suasana layaknya reuni anak sekolah.

Namun, perayaan tersebut menuai sorotan karena berlangsung ketika sejumlah wilayah Kalimantan Selatan masih menghadapi persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap.

Sejumlah warganet mempertanyakan kepantasan pesta tersebut di tengah kondisi masyarakat yang terdampak kabut asap.

Sorotan serupa datang dari Dr. H. Muhammad Uhaib As’ad, M.Si., mantan dosen Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari (UNISKA MAB) Banjarmasin.

Menurut Uhaib, yang menjadi persoalan bukan semata-mata konsep pesta atau pilihan pakaian, melainkan momentum perayaan dan posisi Masrupah sebagai istri pejabat daerah.

Ia menilai, keluarga pejabat semestinya memiliki kepekaan lebih tinggi terhadap situasi yang tengah dihadapi masyarakat.

“Tidak memiliki sense of crisis. Tampil gaya ABG bak artis,” ujar Uhaib.

 

Dinilai Terlalu Glamour

Uhaib menilai, perayaan ulang tahun di tempat yang dianggap cukup mewah dengan konsep bergaya anak muda dapat menimbulkan kesan hedonistis apabila dilakukan di tengah situasi masyarakat yang sedang menghadapi musibah kabut asap.

Ia memahami tema “Kembali Muda” mungkin dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa usia 58 tahun bukan halangan untuk tetap tampil bergaya.

Namun, menurutnya, ekspresi tersebut tetap perlu mempertimbangkan kondisi sosial di sekitar.

“Meski maksudnya sudah tua, tetapi masih ingin bergaya. Namun, gaya seperti ini tidak mendidik dan terkesan berlebihan,” katanya.

Ia menegaskan, kritik tersebut bukan berarti melarang seseorang merayakan ulang tahun. Menurut dia, siapa pun berhak menikmati momen pribadi.

Namun, ketika perayaan dilakukan oleh keluarga pejabat publik dan kemudian ditampilkan secara terbuka kepada masyarakat, aspek kepantasan dan sensitivitas sosial dinilai perlu menjadi perhatian.

Soroti Gaya di Ruang Publik

Uhaib juga mengkritik penggunaan penampilan fisik sebagai bagian dari pembentukan citra di ruang publik.

Menurut dia, tubuh dan penampilan dapat menjadi bagian dari budaya visual untuk membangun cerita, menarik perhatian, serta memperoleh pengakuan.

Body menjadi alat budaya untuk bercerita tentang tampilan dan gaya agar menarik simpati,” ujarnya.

Ia menilai, ketika konsep tersebut dikemas secara berlebihan, masyarakat bisa menangkap pesan yang berbeda dari maksud awal penyelenggara.

“Gaya ini tidak wajar dan tidak pantas di tengah musibah kepungan asap di Kalsel. Ini menunjukkan gaya dan perilaku hedonis,” tegasnya.

Sebut “Gila Validasi”

Kritik Uhaib semakin tajam ketika menyinggung soal pencitraan dan kebutuhan mendapatkan pengakuan publik.

Ia menyebut apa yang dilihatnya sebagai kecenderungan “gila validasi” dan “gila pengakuan”.

“Gila validasi, gila pengakuan. Pencitraan yang terjadi pada diri istri Sekdaprov Kalsel,” katanya.

Menurut Uhaib, seorang istri pejabat semestinya mampu menunjukkan empati dan kepedulian terhadap masyarakat, terlebih ketika daerah sedang menghadapi persoalan karhutla dan kabut asap.

Ia juga menilai gaya perayaan yang menyerupai penampilan artis atau selebritas tidak semestinya menjadi contoh bagi keluarga pejabat.

“Hal ini tidak patut ditiru dengan gaya bak artis dan selebritas, padahal istri seorang pejabat,” ujarnya.

Uhaib berharap keluarga pejabat dapat lebih mempertimbangkan situasi masyarakat sebelum menampilkan gaya hidup atau kegiatan yang berpotensi mengundang persepsi publik.

“Hal ini tidak patut dicontoh,” pungkasnya.

Ibur/Aliansyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *