Banjarmasin, Kalsel — Penanganan bayi baru lahir yang rentan menjadi fokus utama dalam 10th Annual Neonatology Update (ANU) 2026 yang digelar di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Forum ilmiah yang memasuki satu dekade ini menghimpun kurang lebih 400 tenaga medis dari berbagai daerah di Indonesia.
Kegiatan yang berlangsung pada 30 April hingga 3 Mei 2026 ini mengangkat tema “Nurturing Future: Early Intervention and Developmental Care of Small Vulnerable Newborn”. Tema tersebut menegaskan pentingnya intervensi dini dan perawatan perkembangan bagi bayi dengan kondisi rentan, seperti bayi prematur dan bayi dengan berat lahir rendah.
Ketua UKK Neonatologi IDAI Pusat, dr. R. Adhi Teguh Perma Iskandar, Sp.A., Subsp.Neo(K), saat membuka kegiatan menekankan bahwa penanganan bayi rentan memerlukan pendekatan komprehensif dan berbasis ilmu terkini.
“Bayi rentan membutuhkan penanganan yang cepat, tepat, dan terintegrasi. Keterlambatan intervensi dapat berdampak pada kualitas tumbuh kembang anak di masa depan,” ujarnya.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Kalimantan Selatan bekerja sama dengan unit kerja neonatologi. Berbagai agenda ilmiah digelar, mulai dari simposium, diskusi interaktif, hingga lokakarya yang menitikberatkan pada praktik langsung di lapangan.
Ketua panitia, dr. Pudji Andayani, Sp.A., Subsp.Neo(K), mengatakan bahwa selama 10 tahun penyelenggaraan, ANU konsisten mendorong peningkatan kualitas layanan neonatal, terutama dalam menangani kelompok bayi berisiko tinggi.
“Melalui forum ini, tenaga kesehatan didorong untuk memperkuat kemampuan dalam deteksi dini, stabilisasi, hingga perawatan lanjutan bagi bayi rentan,” kata Pudji.
Sejumlah pakar nasional turut membahas berbagai pendekatan terkini dalam penanganan neonatal. Topik yang diangkat meliputi intervensi dini pada bayi risiko tinggi, developmental care, optimalisasi layanan di fasilitas kesehatan, serta pentingnya kolaborasi multidisiplin.
Selain sebagai forum ilmiah, kegiatan ini juga menjadi ruang berbagi pengalaman klinis antar tenaga medis. Pertukaran pengetahuan tersebut diharapkan dapat meningkatkan standar pelayanan, khususnya dalam menekan angka kematian bayi (AKB) di Indonesia.
Rangkaian kegiatan juga dilengkapi dengan agenda non-ilmiah seperti kunjungan ke Pasar Terapung, fun run, serta kegiatan kebersamaan lainnya. Meski demikian, fokus utama tetap pada penguatan kapasitas tenaga kesehatan dalam menangani bayi baru lahir yang membutuhkan perhatian khusus.
Memasuki satu dekade pelaksanaan, ANU diharapkan terus menjadi wadah strategis dalam mendorong peningkatan kualitas layanan neonatal, terutama bagi bayi rentan yang membutuhkan penanganan optimal sejak awal kehidupan.












