KUALA KAPUAS, pojokindonesia.com — Kondisi darurat akibat kekeringan ekstrem serta kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Tengah, khususnya Kabupaten Kapuas, masih menunjukkan eskalasi tinggi pada awal Oktober 2026. Meski sebagian wilayah mulai diguyur hujan, curah hujan belum merata sehingga tekanan iklim buruk belum berakhir.
Lonjakan Titik Panas, Mantangai Paling Kritis
Berdasarkan data awal Oktober 2026, jumlah titik panas (hotspot) di Kabupaten Kapuas melonjak tajam hingga menembus angka ratusan dalam sehari. Kecamatan Mantangai menjadi wilayah paling terdampak dengan tercatatnya 504 titik panas. Secara kumulatif sepanjang tahun 2026, Kapuas tercatat sebagai salah satu daerah dengan sebaran titik panas tertinggi di Kalimantan Tengah, mencapai puluhan ribu titik disertai ratusan kejadian Karhutla yang menghanguskan ribuan hektare lahan.
Satgas penanganan Karhutla terus dikerahkan baik lewat jalur darat maupun udara, termasuk pengerahan helikopter untuk melakukan pengeboman air di lahan gambut yang sulit dijangkau.
Dampak Kesehatan & Aktivitas Warga
Kabut asap tebal yang menyelimuti wilayah memicu ribuan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) serta diare di tengah masyarakat. Sejumlah sekolah di daerah terdampak parah terpaksa menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), sementara pemerintah juga mendirikan posko oksigen untuk menjaga ketersediaan layanan kesehatan bagi warga yang membutuhkan.
Himbauan Kalaksa BPBD Kapuas: Kurangi Aktivitas Luar, Jangan Bakar Lahan!
Kalaksa BPBD Kapuas sekaligus Ketua Harian Posko Darurat Penanganan dan Penanggulangan Bencana Kekeringan dan Karhutla, Pangeran S. Pandiangan, S.Hut., MM, bersama tim gabungan terpadu menyampaikan himbauan penting kepada seluruh warga:
“Kami mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah guna menghindari dampak buruk kabut asap. Selain itu, gunakanlah air bersih secara hemat dan bijak. Kami juga mengingatkan dengan tegas: jangan melakukan pembakaran lahan sekecil apa pun, karena hal ini memperburuk situasi dan menjadi pemicu utama meluasnya kebakaran hutan dan lahan.”
Pernyataan ini disampaikan guna menjaga keselamatan warga sekaligus mengajak seluruh elemen masyarakat ikut bertanggung jawab mengendalikan kebakaran yang terus melanda.
Pemerintah Turun Langsung Salurkan Bantuan
Pemerintah Kabupaten Kapuas bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah memperkuat status tanggap darurat dengan menyalurkan bantuan pangan, air bersih, serta layanan kesehatan ke desa-desa pelosok yang terdampak kekeringan ekstrem. Wilayah seperti Desa Katunjung, Tumbang Mangkutup, hingga Tumbang Muroi menjadi sasaran utama kunjungan dan penyaluran bantuan langsung.
Sebelumnya, Bupati Kapuas H. Muhammad Wiyatno juga telah meninjau wilayah terdampak secara langsung, menyerahkan bantuan, serta berdialog dengan warga agar kehadiran pemerintah benar-benar dirasakan di tengah kesulitan yang dialami masyarakat.
Prakiraan BMKG: Awal Musim Hujan Mulai Bertahap, Tetap Waspada
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan wilayah Kalimantan Tengah secara bertahap mulai memasuki awal musim hujan pada dasarian kedua hingga ketiga Oktober 2026. Namun, kewaspadaan tinggi tetap dipertahankan karena hujan belum merata sepenuhnya di seluruh wilayah. Sementara itu, anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik menunjukkan nilai +2,63 yang menandakan El Nino berada pada fase sangat kuat dan diprediksi bertahan hingga awal tahun 2027.
Kondisi ini berarti tekanan iklim kering masih akan membayangi, sehingga seluruh pihak diminta tidak melonggarkan upaya pencegahan kebakaran lahan, penghematan air bersih, serta tetap waspada terhadap dampak kabut asap sampai curah hujan turun secara merata dan berkelanjutan.uhkps












