Kapuas, pojokindonesia.com — Bupati Kapuas H.M. Wiyatno, S.P., didampingi Sekretaris Daerah Dr. Usis I. Sangkai, S.Hut., M.Si., melakukan peninjauan ke lokasi Relokasi Pasar Ikan dan Proyek Pembangunan Water Front City (WFC) di Kompleks Pelabuhan Danum Are Kuala Kapuas, pada Senin, 12 Oktober 2026.
Turut mendampingi peninjauan, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Vitrianson, S.Sos., M.A., serta Kepala Dinas Perhubungan Teras, S.T., M.T.
Peninjauan dilakukan untuk melihat langsung aktivitas jual beli warga serta ketersediaan ikan segar dan fluktuasi harga pasca relokasi sementara Pasar Ikan dari Jalan Mawar ke Pelabuhan Danum Are, mengingat pasar lama saat ini sedang dalam tahap rehabilitasi dan pembangunan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Vitrianson menyatakan, langkah ini merupakan wujud kepedulian pemerintah daerah untuk memudahkan pedagang maupun warga dalam bertransaksi.
“Hal ini menunjukkan kepedulian pemerintah dalam rangka menciptakan kemudahan bagi pedagang ikan dan warga dalam melakukan transaksi jual beli ikan, terutama akses bertransaksi kedua pihak. Relokasi Pasar Ikan ini bersifat sementara, menunggu selesainya peningkatan pembangunan Pasar Ikan di Jalan Mawar,” ujar Vitrianson.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Teras menambahkan, pemilihan lokasi di Pelabuhan Danum Are juga bertujuan memudahkan para nelayan dalam proses bongkar muat hasil tangkapan.
“Peninjauan relokasi Pasar Ikan berada tepat di Pelabuhan Danum Are sebagai upaya memudahkan para nelayan untuk bongkar muat hasil tangkapannya yang langsung dijual kepada para pedagang,” ungkap Teras selaku penanggung jawab pengelola pelabuhan.
Selain meninjau Pasar Ikan, rombongan juga mengecek langsung progres pembangunan Water Front City yang lokasinya terintegrasi dengan kawasan pelabuhan.
“Pelabuhan Danum Are ini terkoneksi langsung dengan pembangunan Water Front City, sehingga Bapak Bupati beserta Sekda juga meninjau pelaksanaan kegiatan pembangunan WFC ini untuk melihat secara langsung progresnya,” terang Teras.
Dijelaskan, pembangunan Water Front City saat ini terus berjalan dan pengerjaannya telah mencapai 19 segmen. Seluruh material yang digunakan berupa beton pracetak — mulai dari tiang pancang, balok tumpu, hingga lantai — didatangkan dari Pulau Jawa sesuai spesifikasi yang telah ditetapkan.
“Selain itu, campuran untuk sambungan setiap lantai wajib menggunakan air tawar yang telah melalui uji laboratorium untuk mengukur kandungan asam, sebagai upaya menjamin kekuatan dan keawetan bangunan,” jelas Teras.
Peninjauan langsung ini juga bertujuan sebagai bentuk inspeksi menyeluruh sekaligus evaluasi progres pembangunan, yang nantinya akan menjadi acuan dalam penataan dan relokasi kawasan sekitar Water Front City ke depannya. uhkps












