Guru Bakhiet Kupas Konsep Adil dalam Islam
Banjarmasin, pojokindonesia.com
Ulama kondang HM Bakhiet AM mengupas tuntas pokok-pokok konsep adil dalam Islam yang wajib setiap muslim dan mukmin ketahui.
Menurut dia, Allah telah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi bantuan kepada kerabat. “Silakan lihat alQuran Surat an-Nahl ayat 90,” kata Guru Bakhiet.
Dia menyampaikan hal tersebut di hadapan ribuan jamaah Majelis Zikir dan Taklim Nurul Muhibbin, Handilbakti, Kabupaten Barito Kuala, Kalsel, Sabtu malam (3/10/2026).
Tentang adil, ulama membagi tiga. Pertama, sebutnya, adil terhadap Allah swt. Bagaimana bisa bersikap dan berbuat adil kepada Allah, yaitu dengan tidak menyekutukan Dia dengan siapa dan apapun. “Intinya jangan berbuat syirik, jauhi kesyirikan” tegas pengasuh Ponpes Nurul Muhibbin di Barabai ini.
Yang kedua, lanjutnya, adil terhadap diri sendiri, yaitu di antaranya mencegah keinginan-keinginan nafsu yang selalu mengajak ke arah kemaksiatan dan kejahatan. Inilah nafsu amarah.
“Sedapat mungkin nafsu tersebut mesti kita lawan dengan nafsu lawwamah dan terus tingkatkan hingga mencapai tingkatan nafsu mutmainnah, dan dengan nafsu inilah yang akan mengantarkan seseorang ke surga,” katanya bersemangat.
Ketiga, ujarnya, adil terhadap sesama, terlebih kepada keluarga, yaitu dengan memenuhi atau menyerahkan hak-hak mereka, misalnya hak seorang istri yang konsisten memberikan hak suami, atau sebaliknya, hak anak, hak orangtua, saudara, dan seluruh keluarga serta para tetangga. Adil dalam bermuamalat, berbisnis, berdagang, dan sebagainya.
Guru Bakhiet teruskan, jika ketiga hal adil di atas adalah wajib, maka ada dua hal yang sunnah bagi setiap muslim yang mengamalkanya, masih dalam konteks adil terhadap sesama, yaitu berlaku ihsan dan menjalin silaturrahim.
“Misalnya, solat lima waktu itu solat fardu, wajib. Jika mau berbuat ihsan, maka tambahkanlah dengan solat-solat sunat, atau melebihkan takaran dan timbangan, misalnya bagi pedagang,” sebut tokoh kharimatik ini.
Yang kedua, melakukan silaturrahim pada keluarga dengan mengunjunginya atau memenuhi undanngannya manakala menerima undangan. “Intinya, jangan sampai ada keluarga yang berucap bahwa kita acuh tak acuh pada mereka,” pungkas guru Bakhiet. (kha)












