Berita

Identitas Budaya Lokal Terancam Punah

×

Identitas Budaya Lokal Terancam Punah

Share this article
Identitas Budaya Lokal Terancam Punah

Identitas Budaya Lokal Terancam Punah, DPRD Desak Pemda Percepat Upaya Pelestarian

BANJARMASIN, pojokindonesia.com–

Kini identitas budaya lokal semakin terancam punah. Pasalnya, berbagai kesenian dan bahasa daerah mulai kehilangan ruang di tengah masyarakat, terutama di kalangan kawula muda, generasi milineal.

Anggota Komisi IV DPRD Kalsel dari Fraksi NasDem, H Iberahim Noor mengatakan hal itu kepada wartawan,  Senin (10/8/2026) usai Rakor dengan pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalsel.

Dia mengaku menyaksikan langsung kondisi sekarang, betapa kesenian tradisional dan juga bahasa Banjar murni sekarang ini sangat jarang tampil. “Ini ada apa, harus mendapat perhatian serius dari pemda dan kita semua,” ujarnya.

Menurut Iberahim, beberapa kesenian daerah dan bahasa Banjar asli kini semakin redup. “Dulu setiap ada hajatan masyarakat pasti menampilkan pertunjukan wayang atau kesenian lokal lainnya,” sebutnya.

Ada beberapa kesenian lokal seperti hadroh, bakisah, kuda gepang, mamanda, dan lainnya.

Karena itu, lanjut Iberahim, pihaknya di DPRD mendesak Pemda mempercepat upaya pelestarian tersebut. “Ya pemda harus mempercepat, jangan sampai terlambat. Kalau tidak segera, kita cemaskan identitas budaya lokal benar-benar semakin tergerus dan akhirnya benar-benar musnah,” ucapnya dengan nada khawatir.

Dari dengar pendapat dengan Disdikbud, dia menyimak sejumlah program pelestarrian yang pemda akan lakukan. Iberahim meminta berbagai program pelestarian budaya yang Disdikbud rancang, jangan berhenti pada tahap perencanaan itu saja, tetapi segera mewujudkan secara konkret.

Seperti penyusunan kamus bahasa daerah, pendataan kebudayaan, hingga pembinaan sanggar harus mereka percepat dan menjadi prioritas pemerintah daerah.

Itulah, lanjutnya, sebagai bagai paya dukungan dari Komisi IV DPRD Kalsel.

Sebelumnya, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kalsel, Eddy Suwarto mengatakan, digitalisasi menjadi salah satu strategi baru pemerintah dalam menjaga keberlangsungan kebudayaan daerah.

Langkah tersebut, ujarnya, menjadi bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Kalsel melestarikan bahasa dan budaya daerah di tengah derasnya perkembangan teknologi dan pengaruh budaya luar.

Menurutnya, pelestarian budaya tidak bisa lagi hanya mengandalkan kegiatan seremonial atau event yang berlangsung sesaat. Pemerintah kini mulai mengarahkan pembinaan kebudayaan berbasis komunitas agar menghasilkan dampak yang lebih berkelanjutan.

Menurutnya, selama ini program kebudayaan terlalu fokus pada event eksklusif yang sifatnya bongkar panggung, selesai tanpa dampak panjang.

“Sekarang kita ubah, berbasis pada komunitas (based on community), membangun ekosistem kebudayaan dari bawah,” kata Eddy.

Pembinaan dari bawah itu, katanya lagi, di antaranya membidik generasi muda usia 10 – 15 tahun.
“Itu untuk menumbuhkan rasa memiliki sekaligus menjaga keberlangsungan budaya lokal pada mereka,” ucapnya.

Di antara hal yang mendesak, menurut Eddy adalah pelestarian bahasa Banjar. Pihaknya sudah berhasil menghimpun sebanyak 11 ribu kosakata Bahasa Banjar, dan sudah memasukkannya ke dalam Ensiklopedia Kebudayaan Digital Kalimantan Selatan (Kalsel).

“Itulah di antara langkah kita yang menjadi bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Kalsel melestarikan bahasa dan budaya daerah di tengah derasnya perkembangan teknologi dan pengaruh budaya luar,” jelasnya.

Eddy jelaskan pula, ensiklopedia digital tersebut Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalsel susun bekerja sama dengan Balai Bahasa.

Selain itu, pihaknya juga memuat platform berbasis spesial tersebut untuk memetakan 19 cagar budaya, warisan budaya nonbenda, serta mendata sanggar, dan pegiat seni yang tersebar di Kalsel. (kha)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *