KUALA KAPUAS, pojokindonesia.com — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, masih menjadi perhatian serius. Hingga Kamis (8/10/2026), Satgas Posko Induk Penanganan Darurat Kekeringan dan Karhutla mencatat 1.754 titik panas harian. Sementara itu, jumlah kumulatif titik panas sejak awal tahun mencapai 37.469 titik.
Tim gabungan terus melakukan pemadaman di sejumlah wilayah yang terdampak. Berdasarkan laporan posko, penanganan kebakaran berlangsung di berbagai kecamatan dengan kendala utama berupa keterbatasan sumber air, angin kencang, akses menuju lokasi yang sulit, serta minimnya sarana dan prasarana.
Kecamatan Mantangai menjadi wilayah dengan jumlah titik panas tertinggi, yakni 1.106 titik. Berikutnya, Kecamatan Timpah mencatat 325 titik, Bataguh 85 titik, dan Dadahup 53 titik. Kondisi tersebut diperparah oleh peringatan dini kekeringan meteorologis pada dasarian pertama Oktober yang menempatkan Kabupaten Kapuas dalam kategori kering dan perlu diwaspadai.
Pada Kamis (8/10/2026), tim gabungan menangani kebakaran di 11 lokasi. Personel yang terlibat berasal dari unsur TNI, Polri, Brimob, BPBD, Manggala Agni, pemadam kebakaran, Masyarakat Peduli Api (MPA), relawan, serta instansi terkait lainnya.
Di Desa Anjir Serapat Barat, Kecamatan Kapuas Timur, kebakaran seluas sekitar 0,032 hektare masih berlangsung dan belum sepenuhnya padam. Sementara itu, kebakaran di Jalan Pemuda, Kelurahan Selat Utara, seluas 0,051 hektare berhasil dipadamkan.
Di Jalan Trans Dadahup, Desa Dadahup, Kecamatan Dadahup, kebakaran pada lahan sekitar 1,5 hektare berhasil dikendalikan meski tim menghadapi angin kencang dan kendala teknis. Pemadaman juga berhasil dilakukan di Desa Saka Mangkahai, Kecamatan Kapuas Barat, pada lahan sekitar 2 hektare, kendati sumber air di lokasi terbatas.
Di Desa Lungkuh Layang, Kecamatan Timpah, kebakaran seluas sekitar 1,2 hektare berhasil dipadamkan. Namun, petugas harus menghadapi kendala tidak tersedianya sumber air di sekitar lokasi.
Kondisi lebih sulit terjadi di Dusun Tuanan, Desa Tumbang Mangkutup, Kecamatan Mantangai. Kebakaran yang diperkirakan melanda lahan seluas 75 hektare baru berhasil dipadamkan sekitar 1 hektare dan masih belum sepenuhnya terkendali. Lokasi kebakaran hanya dapat dijangkau dengan berjalan kaki sejauh sekitar 1,5 kilometer, sementara sumber air sangat terbatas.
Di Desa Basarang Jaya, Kecamatan Basarang, kebakaran pada lahan sekitar 8 hektare baru berhasil dipadamkan sebagian, yakni sekitar 0,5 hektare. Api masih menyala sehingga tim melakukan pemantauan menggunakan pesawat nirawak (drone) serta pembasahan untuk melindungi area sekolah yang berada di dekat lokasi.
Kebakaran juga masih berlangsung di Desa Tamban Baru Tengah, Kecamatan Tamban Catur. Penanganan di lokasi ini terkendala keterbatasan sarana dan prasarana.
Sementara itu, di Kecamatan Mantangai, pemadaman dilakukan di Desa Mantangai Hilir dan Desa Lamunti. Di Mantangai Hilir, kebakaran pada lahan sekitar 2 hektare baru berhasil dipadamkan sekitar 1 hektare. Adapun di Lamunti, dari lahan sekitar 3 hektare, sekitar 2 hektare telah berhasil dipadamkan. Kedua lokasi masih menghadapi kendala keterbatasan sumber air dan kerusakan sarana pendukung.
Sehari sebelumnya, Rabu (7/10/2026), tim gabungan juga melakukan pemadaman di sejumlah lokasi. Di Anjir Serapat Barat, Kecamatan Kapuas Timur, kebakaran pada lahan sekitar 6 hektare berhasil dipadamkan meski angin bertiup kencang.
Di Desa Mantangai Hilir dan Desa Lamunti, Kecamatan Mantangai, kebakaran masing-masing pada lahan sekitar 3 hektare dan 6 hektare juga berhasil dikendalikan. Namun, petugas menghadapi kesulitan memperoleh sumber air selama proses pemadaman.
Selain operasi pemadaman, Posko Induk menjalankan piket selama 24 jam dan patroli rutin di wilayah rawan karhutla. Petugas juga melakukan penilaian kesiapan lokasi pendaratan helikopter untuk mendukung operasi pengeboman air (water bombing).
Posko lapangan di setiap kecamatan turut melaksanakan apel pagi, patroli, serta sosialisasi pencegahan kebakaran kepada masyarakat di desa-desa.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kapuas sekaligus Ketua Harian Posko Darurat, Pangeran S. Pandiangan, S.Hut., M.M., mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan di tengah kondisi lahan yang masih kering.
Ia menegaskan pentingnya menghindari pembakaran lahan dalam bentuk apa pun untuk mencegah munculnya titik api baru dan meluasnya kebakaran.
Masyarakat yang melihat titik api diharapkan segera melaporkannya kepada petugas agar dapat ditangani sedini mungkin. Partisipasi warga dinilai penting untuk mendukung upaya pengendalian karhutla, terutama di wilayah yang sulit dijangkau dan memiliki keterbatasan sumber air.
Dengan kondisi cuaca kering dan kebakaran yang masih terjadi di sejumlah kecamatan, kewaspadaan serta kerja sama antara petugas dan masyarakat menjadi kunci untuk menekan penyebaran karhutla di Kabupaten Kapuas. uhkps












