Kolom Pakar

Bermain Tuhan dan Jalan Panjang Inovasi – Inspirasi dari Film JOY (2024)

×

Bermain Tuhan dan Jalan Panjang Inovasi – Inspirasi dari Film JOY (2024)

Share this article
Bermain Tuhan dan Jalan Panjang Inovasi – Inspirasi dari Film JOY (2024)

Oleh Denny JA

Seorang perempuan menatap sebuah tabung kecil di laboratorium. Di dalamnya, kehidupan belum menjadi tangis, belum menjadi nama, bahkan belum menjadi seorang bayi. Ia baru sekumpulan sel yang nyaris tak terlihat.

Namun bagi seseorang yang bertahun-tahun menunggu seorang anak, di sanalah seluruh dunia sedang dipertaruhkan: memiliki anak melalui proses bayi tabung.

Ada kamar yang tetap kosong. Ada nama yang mungkin telah lama dipilih. Ada ulang tahun yang belum pernah dirayakan. Ada doa yang dipanjatkan berkali-kali, tetapi langit seperti memilih diam.

Di luar laboratorium, kemarahan justru membesar. Para perintis bayi tabung ini (fertilisasi in vitro) dituduh sedang bermain Tuhan. Mereka dibandingkan dengan Frankenstein: manusia yang begitu ingin menaklukkan rahasia kehidupan, hingga lupa bahwa ciptaannya suatu hari dapat berbalik menghantuinya.

Tetapi di dalam laboratorium, tiga manusia terus bekerja. Mereka tahu infertilitas bukan sekadar istilah medis tentang sulitnya memperoleh kehamilan.

Di balik satu kata itu tersembunyi kesunyian yang panjang: pasangan yang pulang ke rumah tanpa suara anak. Juga perempuan yang bertanya-tanya mengapa tubuhnya tak kunjung memberi kehidupan.

Banyak pula keluarga yang perlahan belajar berdamai dengan kemungkinan bahwa seseorang yang sangat mereka nantikan mungkin tak pernah datang.

Lalu sejarah mengambil jalan yang berbeda. Pada 25 Juli 1978, lahirlah Louise Joy Brown, bayi pertama di dunia yang dilahirkan melalui fertilisasi in vitro, IVF, yang kemudian populer disebut bayi tabung.

Ia lahir seperti bayi lainnya. Menangis. Bernapas. Hidup. Tetapi tangis bayi itu mengubah sejarah.

Apa yang sebelumnya dianggap melawan alam, bahkan menghina Tuhan, tiba-tiba memiliki wajah seorang bayi perempuan.

Sejak hari itu, pertanyaannya tak lagi sederhana. Jika ilmu pengetahuan mampu mengurangi penderitaan manusia, sampai sejauh mana ia boleh melangkah?

Kapan inovasi menjadi pembebasan? Kapan keberanian berubah menjadi kesombongan? Dan pada titik mana manusia, karena mampu melakukan sesuatu, mulai merasa bahwa ia juga berhak melakukan segala sesuatu?

Di situlah dilema terbesar inovasi berada. Memang inovasi yang sah bukanlah inovasi tanpa batas. Ia adalah keberanian memasuki wilayah yang belum dikenal, sambil tetap rendah hati di hadapan fakta.

Juga perlu sadar bahwa kemampuan menciptakan kemungkinan baru selalu datang bersama kewajiban etis untuk mempertanggungjawabkannya.

Sebab sejarah berkali-kali menunjukkan: manusia maju bukan hanya karena berani menembus batas. Manusia maju karena belajar batas mana yang memang harus ditembus, dan batas mana yang justru harus dijaga.

-000-

Film JOY membawa kita ke Inggris antara akhir 1960-an dan 1978, ketika IVF, fertilisasi in vitro, belum dianggap pengobatan, melainkan eksperimen radikal yang menggelisahkan masyarakat.

IVF mempertemukan sel telur dan sperma di luar tubuh, kemudian memindahkan embrio ke rahim. Kini terdengar biasa, tetapi dahulu prosedur ini mengguncang batas imajinasi manusia.

Pada mulanya, IVF berdiri di persimpangan yang genting antara harapan medis, ketidakpastian ilmiah, ketakutan sosial, keberatan moral, dan kerinduan manusia akan seorang anak.

Film garapan Ben Taylor ini memilih Jean Purdy sebagai pintu masuk cerita. Thomasin McKenzie memerankan Purdy, James Norton menjadi Robert Edwards, dan Bill Nighy menjadi Patrick Steptoe.

Pilihan menjadikan Purdy pusat cerita sangat berarti. Edwards menerima Hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran pada 2010 atas pengembangan IVF, tetapi keberhasilan itu bukan pekerjaan seorang diri.

Arsip dan penelitian sejarah tentang catatan Oldham memperlihatkan Purdy sebagai figur penting dalam laboratorium, pengelolaan data, persiapan media, serta pendampingan pasien proyek IVF awal.

Secara visual, JOY tidak mengejar kemegahan. Laboratoriumnya biasa, koridor rumah sakitnya dingin, ruang kerjanya sempit. Kamera justru lebih tertarik kepada wajah manusia daripada teknologi.

Di situlah kekuatannya. Kita tidak melihat manusia dengan gagah menaklukkan alam, melainkan manusia yang berkali-kali dikalahkan alam, lalu perlahan memahami sebagian kecil rahasianya.

Sains dalam JOY bukan parade kemenangan. Ia adalah tangan yang menata alat, wajah yang menunggu hasil, koridor sunyi, dan manusia yang kembali bangkit setelah kegagalan.

-000-

Kisah itu dimulai pada 1968 ketika Jean Purdy, perawat muda yang kemudian menjadi asisten riset dan embriolog klinis, bergabung dengan laboratorium Robert Edwards di Cambridge.

Edwards membawa gagasan sederhana sekaligus radikal: sel telur manusia mungkin dapat dibuahi di luar tubuh, kemudian embrio yang terbentuk dikembalikan ke dalam rahim perempuan.

Untuk mewujudkannya, ia bekerja bersama Patrick Steptoe, dokter kandungan di Oldham yang menguasai laparoskopi, teknik pengambilan sel telur yang ketika itu masih sangat inovatif.

Perjalanan Cambridge menuju Oldham panjang. Dana terbatas, fasilitas seadanya, dukungan institusional rapuh. Namun mereka memiliki keyakinan penting: kegagalan hari ini belum membuktikan kemustahilan selamanya.

Mereka berhasil membuahi sel telur manusia. Tetapi keberhasilan di laboratorium belum berarti kehamilan dapat bertahan. Dalam sains, setiap jawaban sering melahirkan pertanyaan yang lebih sulit.

Tekanan dari luar terus membesar. Media membangkitkan kecemasan publik, ilmuwan mempertanyakan keselamatan, institusi enggan mendukung, sementara kalangan keagamaan menganggap mereka memasuki wilayah terlarang.

Bagi Jean Purdy, benturan itu menjadi sangat personal. Ia perempuan beriman, tetapi pekerjaannya memaksanya menghadapi pertanyaan yang jauh lebih dalam daripada slogan “bermain Tuhan.”

Apakah menerima penderitaan sebagai batas merupakan satu-satunya bentuk ketaatan? Ataukah menggunakan pengetahuan untuk mengurangi penderitaan juga dapat menjadi sebuah tanggung jawab moral manusia?

Purdy sendiri menderita endometriosis berat, kondisi yang dapat menimbulkan nyeri dan berkaitan dengan gangguan kesuburan. Infertilitas baginya bukan hanya persoalan klinis, tetapi luka kehidupan.

Setelah hampir satu dekade bekerja, Lesley Brown menjadi pasien yang kehamilannya berhasil bertahan. Pada 25 Juli 1978, Louise Joy Brown lahir di Oldham dan mengubah sejarah.

Kini, para peneliti Cambridge memperkirakan lebih dari 13 juta bayi telah lahir melalui IVF di seluruh dunia, sebuah angka yang memperlihatkan betapa jauhnya perjalanan sebuah eksperimen.

Di balik angka itu berdiri Edwards, Steptoe, Purdy, dan para perempuan yang menyerahkan tubuh, harapan, kecemasan, serta keberanian mereka kepada sebuah kemungkinan yang belum bernama.

-000-

Kemajuan sering lahir sebagai penyimpangan

Setiap zaman mempunyai batas imajinasinya sendiri. Manusia cenderung menganggap sesuatu yang bergerak terlalu jauh di luar batas itu sebagai penyimpangan, bahkan sebagai kesesatan.

Kita kerap keliru mengira konsensus sebagai kebenaran. Padahal konsensus hanyalah perhentian sementara tempat pengetahuan, kebiasaan, ketakutan, kepentingan, dan nilai suatu zaman saling bertemu.

IVF dahulu dianggap mengerikan bukan semata-mata karena bukti ilmiah menunjukkan bahayanya. Penolakan juga muncul karena masyarakat belum memiliki bahasa moral untuk memahami teknologi baru tersebut.

Namun JOY tidak boleh dibaca sebagai pembelaan bahwa inovator selalu benar. Sejarah teknologi juga dipenuhi penemuan yang melahirkan penderitaan, ketimpangan, eksploitasi, bahkan kehancuran manusia.

Keberanian ilmiah bukan keberanian melawan mayoritas demi kebanggaan menjadi berbeda. Ia adalah keberanian menyerahkan hipotesis kepada pembuktian, pengawasan, koreksi, bahkan kemungkinan bahwa hipotesis itu keliru.

Di sini pemikiran Karl Popper tetap relevan. Pengetahuan berkembang bukan karena teori dibuat kebal terhadap kritik, melainkan karena manusia menyediakan ruang agar teori dapat dibantah.

Edwards, Steptoe, dan Purdy tidak mempunyai kepastian mutlak. Mereka hanya memiliki ketekunan untuk mengubah kegagalan menjadi informasi, lalu mengubah informasi menjadi pertanyaan yang lebih baik.

Dalam tradisi ilmiah yang sehat, eksperimen gagal bukan penghinaan terhadap keyakinan. Ia adalah bisikan kenyataan bahwa masih ada sesuatu yang belum sungguh-sungguh kita pahami.

Inovasi, karena itu, bukan kemenangan ego melawan masyarakat. Ia adalah perjalanan manusia mengubah ketidaktahuan menjadi pengetahuan melalui eksperimen yang selalu terbuka terhadap kritik dan koreksi.

-000-

“Bermain Tuhan” bukan pertanyaan sederhana

Ungkapan “bermain Tuhan” mempunyai daya retoris besar karena segera menciptakan garis moral, seolah terdapat wilayah kehidupan yang secara kodrati tidak boleh disentuh tangan manusia.

Namun sejarah kedokteran menunjukkan garis itu terus bergeser. Anestesi, vaksin, dialisis, transplantasi organ, respirator, dan operasi jantung semuanya pernah mengintervensi batas alamiah kehidupan manusia.

Ketika ginjal seseorang berhenti bekerja, dialisis mengambil alih sebagian fungsinya. Apakah manusia sedang melawan Tuhan, atau justru merawat kehidupan dengan kemampuan yang dimilikinya?

Pertanyaan itu tidak menghapus keberatan moral. Teknologi reproduksi menyentuh embrio, keluarga, keturunan, tubuh perempuan, martabat manusia, serta kemungkinan komersialisasi kehidupan yang memang patut dipersoalkan.

Sebaliknya, sains menjadi berbahaya apabila keberhasilan teknis dianggap otomatis memberikan legitimasi moral. Sesuatu yang dapat dilakukan manusia belum tentu merupakan sesuatu yang seharusnya dilakukan manusia.

Karena itu, pertanyaan yang lebih dewasa bukan sekadar apakah manusia sedang bermain Tuhan, melainkan bagaimana kekuasaan baru dari pengetahuan digunakan secara aman, adil, dan bertanggung jawab.

Kekhawatiran itu bukan tanpa dasar. Pembuahan di luar tubuh dapat menghasilkan embrio yang tidak digunakan, lalu membuka pertanyaan sangat mendasar mengenai awal kehidupan dan martabat embrio.

Sejauh mana manusia boleh campur tangan pada tahap paling awal eksistensinya? Pertanyaan itu tidak selesai hanya karena teknologi telah membuktikan bahwa campur tangan tersebut mungkin dilakukan.

Sheila Jasanoff, dalam The Ethics of Invention, mengingatkan bahwa teknologi tidak pernah sekadar alat netral. Ia membentuk pilihan, membagi kekuasaan, mengubah institusi, dan mendefinisikan kenormalan.

Dari sudut itu, IVF bukan hanya keberhasilan laboratorium. Ia mengubah makna reproduksi, keluarga, pilihan, dan keterbatasan biologis, sehingga inovasi memerlukan dialog etis serta pengawasan publik.

-000-

Penderitaan, akses, dan keadilan

Ada perubahan kecil tetapi menentukan dalam perjalanan Jean Purdy. Mula-mula, perempuan yang datang ke laboratorium mudah terbaca sebagai pasien, nomor kasus, ovum, embrio, atau eksperimen.

Kemudian mereka memiliki nama. Statistik memperoleh wajah, penelitian memperoleh suara, dan infertilitas berhenti menjadi persoalan laboratorium semata, lalu menjelma menjadi pengalaman eksistensial manusia.

Inilah jantung moral JOY. Inovasi tidak menjadi mulia karena kecanggihan teknologinya, tetapi karena manusia yang sebelumnya menderita memperoleh kemungkinan baru untuk menjalani kehidupan berbeda.

Namun kemenangan IVF membuka persoalan baru. Margaret Marsh dan Wanda Ronner menunjukkan bahwa teknologi reproduksi selalu bersentuhan dengan politik, ekonomi, kebudayaan, keluarga, serta moralitas masyarakat.

Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah IVF mungkin dilakukan. Pertanyaan berikutnya ialah siapa yang dapat mengaksesnya, siapa menanggung risikonya, dan berapa harga sebuah harapan harus dibayar.

Di banyak negara berpendapatan rendah dan menengah, IVF serta layanan reproduksi berbantu masih berada jauh di luar jangkauan sebagian besar manusia yang sebenarnya membutuhkannya.

Organisasi Kesehatan Dunia mencatat biaya, minimnya pembiayaan publik, kekurangan tenaga terlatih, serta infrastruktur sebagai hambatan besar bagi manusia yang mencari pertolongan atas infertilitas.

Dalam sejumlah konteks, satu siklus IVF bahkan dapat melampaui pendapatan tahunan rata-rata, membuat teknologi yang menghadirkan harapan sekaligus memperlihatkan wajah lain dari ketimpangan.

Dengan demikian, kemajuan teknologi tidak otomatis berarti keadilan. IVF dapat membebaskan manusia dari sebagian batas biologis, tetapi manfaatnya tidak semestinya menjadi kemewahan kelompok berpunya.

Teknologi tidak mempunyai moralitas intrinsik. Pertanyaan terpenting selalu berada pada manusia: penderitaan siapa yang dikurangi, risiko siapa yang bertambah, dan siapa yang akhirnya menikmati manfaatnya?

Penderitaan personal dapat membuat seseorang semakin tertutup. Pada Jean Purdy, penderitaan justru tampak memperluas solidaritas kepada perempuan lain yang mungkin memperoleh sesuatu yang tak dimilikinya.

Jean Purdy meninggal karena melanoma pada 1985, dalam usia 39 tahun. Patrick Steptoe meninggal tiga tahun kemudian. Nobel 2010 akhirnya hanya dapat diterima Robert Edwards.

Namun sejarah mempunyai ukuran lain. Panjang usia seseorang dan panjang jejak yang ditinggalkannya tidak selalu berjalan bersama. Ada kehidupan singkat yang gema kemanusiaannya melampaui zaman.

-000-

Kehati-hatian bukan musuh kemajuan

Karena kita hidup setelah Louise Brown lahir dengan selamat, mudah bagi kita memandang seluruh penentang IVF pada masa lalu sebagai manusia berpikiran sempit dan takut perubahan.

Penilaian itu tidak sepenuhnya adil. Pada awal 1970-an, risiko kelainan, dampak jangka panjang, keselamatan perempuan, dan nasib embrio belum sepenuhnya diketahui oleh ilmu pengetahuan.

Dalam keadaan seperti itu, kehati-hatian dapat menjadi kewajiban etis. Keraguan bukan selalu musuh kemajuan. Kadang-kadang ia merupakan pagar yang mencegah keberanian berubah menjadi kesombongan.

Tetapi kehati-hatian berbeda dari penolakan otomatis. Kritik yang baik meminta bukti, keselamatan, konsekuensi, perlindungan peserta, biaya, dan alternatif, bukan sekadar berlindung di balik ketakutan.

Ketakutan yang buruk berhenti pada satu alasan sederhana: sesuatu tidak boleh dilakukan hanya karena belum pernah dilakukan sebelumnya. Jika prinsip itu berkuasa, sejarah manusia akan berhenti.

Dilema tersebut semakin tajam pada teknologi reproduksi masa depan. Penyuntingan genom manusia pada garis germinal atau embrio, misalnya, dapat menghasilkan perubahan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Organisasi Kesehatan Dunia menekankan perlunya tata kelola, pengawasan, transparansi, dan kerangka etis yang kuat. Teknologi tidak boleh tumbuh di ruang kosong tanpa kebijakan dan akuntabilitas.

Pelajaran JOY bukan bahwa masyarakat harus menyerah kepada semua inovasi. Kemajuan justru memerlukan ketegangan produktif antara keberanian ilmiah, skeptisisme, etika, regulasi, dan kepentingan manusia.

Kita memerlukan ilmuwan yang mencari jalan baru, skeptikus yang meminta bukti, etikus yang menjaga martabat, serta regulator yang memastikan keberanian tidak dibayar dengan keselamatan manusia.

Peradaban tumbuh bukan ketika keberanian membungkam kehati-hatian, juga bukan ketika ketakutan membunuh kemungkinan. Ia tumbuh ketika keduanya berbicara dalam bahasa bukti, tanggung jawab, dan kepedulian.

-000-

Saya akhirnya melihat JOY bukan terutama sebagai film tentang kelahiran bayi tabung. Ia adalah cerita tentang lahirnya sebuah kemungkinan baru dalam sejarah panjang manusia.

Sebelumnya, bagi banyak pasangan, infertilitas adalah titik. Sesudah Edwards, Steptoe, Purdy, dan para perempuan peserta penelitian awal, titik itu perlahan berubah menjadi tanda tanya: mungkinkah ada jalan lain?

Jean Purdy tidak sempat menyaksikan sebagian besar dunia yang ikut ia bantu lahirkan. Jutaan anak hasil IVF datang ke dunia setelah ia sendiri meninggalkannya.

Mereka tumbuh, belajar, jatuh cinta, berkeluarga, menangis, tertawa, dan bermimpi, tanpa pernah mengetahui nama perempuan yang dahulu ikut membuka kemungkinan bagi keberadaan mereka.

Namun mereka hidup di dalam kemungkinan yang ikut diperjuangkan Jean. Barangkali itulah bentuk keabadian paling sunyi: ketika karya seseorang terus hidup di dalam kehidupan orang lain.

Mungkin kita terlalu sederhana memahami istilah “bermain Tuhan.” Jalan inovasi bukan perjalanan manusia mengambil tempat Tuhan, melainkan perjalanan memahami betapa terbatasnya pengetahuan manusia sendiri.

-000-

Ilmu pengetahuan justru dapat mengajarkan kerendahan hati. Setiap jawaban yang ditemukannya seperti membuka pintu menuju ruangan lebih luas, penuh pertanyaan yang sebelumnya bahkan belum terlihat.

Edwards, Steptoe, dan Purdy tidak menciptakan kehidupan. Mereka tidak menciptakan sel telur, sperma, embrio, rahim, ataupun misteri yang membuat satu sel perlahan tumbuh menjadi manusia.

Mereka hanya menemukan satu jalan baru di antara hukum-hukum kehidupan yang telah ada, sebuah lorong kecil di tengah misteri besar yang jauh melampaui pengetahuan manusia.

Di situlah kerendahan hati ilmu pengetahuan seharusnya berada. Semakin banyak manusia mengetahui, semakin terang pula kesadarannya mengenai luasnya wilayah yang masih belum diketahuinya.

Kita membutuhkan batas, etika, serta manusia yang berani menuntut keselamatan dan keadilan. Namun kita juga membutuhkan mereka yang berani mempertanyakan batas yang dianggap abadi.

Bagaimana jika sebagian batas yang selama ini kita anggap sebagai hukum kehidupan ternyata hanyalah batas pengetahuan manusia pada suatu masa tertentu dalam sejarah?

Tugas inovasi bukan merebut kekuasaan Tuhan. Tugasnya memahami sedikit hukum kehidupan, mengakui luasnya misteri, lalu menggunakan pengetahuan itu untuk mengurangi penderitaan sesama manusia.

Sebab inovasi terbesar bukan ketika manusia berhasil bermain Tuhan, melainkan ketika manusia, dalam segala keterbatasannya, mengubah penderitaan hari ini menjadi harapan bagi kehidupan esok.

Jakarta, 18 Agustus 2026

REFERENSI

1. Johnson, Martin H., dkk. “The Oldham Notebooks: an analysis of the development of IVF 1969–1978. II. The treatment cycles and their outcomes.” Reproductive BioMedicine & Society Online, 2017. Lihat juga Johnson, Martin H. “IVF: The women who helped make it happen.” Reproductive BioMedicine & Society Online, 2019.
2. National Archives, “IVF and reproductive technology in the archive”; University of Cambridge, arsip Robert Edwards. Louise Brown lahir pada 25 Juli 1978 di Oldham sebagai bayi pertama hasil IVF.
3. University of Cambridge, “Cambridge marks centenary of IVF pioneer Sir Robert Edwards’ birth,” 2025; BBC, “IVF pioneer’s birth celebrated 100 years on,” 2025. Keduanya menyebut estimasi lebih dari 13 juta kelahiran melalui IVF secara global.
4. World Health Organization, Infertility fact sheet; UN News, “Better access to fertility care essential for global health,” 2023; Njagi, P. dkk., “Financial costs of assisted reproductive technology for patients in low- and middle-income countries,” Human Reproduction Open, 2023.
5. World Health Organization, Human Genome Editing: Recommendations dan Human Genome Editing: A Framework for Governance, 2021.
6. Margaret Marsh dan Wanda Ronner. The Pursuit of Parenthood: Reproductive Technology from Test-Tube Babies to Uterus Transplants. Johns Hopkins University Press, 2019.
7. Sheila Jasanoff. *The Ethics of Invention

-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World

https://www.facebook.com/share/p/17JM8CTa7H/?mibextid=wwXIfr

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *