Tangerang Selatan,pojokindonesia.com – Pimpinan Cabang (PC) IPNU dan IPPNU Kota Tangerang Selatan menggandeng Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menggelar Digital Literacy Forum melalui Seminar Nasional Literasi Digital dan Kepemimpinan Generasi Muda.
Kegiatan tersebut digelar sebagai rangkaian pasca-pelantikan PC IPNU dan IPPNU Kota Tangerang Selatan Masa Khidmat 2025–2027 di Aula Wali Kota Tangerang Selatan, Sabtu (19/9/2026).
Mengangkat tema “Cakap Bermedia Digital, Berkarakter dalam Memimpin, dan Bijak di Era Transformasi Digital”, forum ini mendorong pelajar dan generasi muda agar tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu memanfaatkannya untuk belajar, berkarya, berkomunikasi, dan membangun jejaring secara produktif dan bertanggung jawab.
Praktisi komunikasi dan kepemimpinan digital, Drs. Sadjan, M.Si., menyoroti dua wajah transformasi digital yang dihadapi generasi muda. Menurutnya, perkembangan teknologi membuka peluang besar, mulai dari akses pendidikan tanpa batas ruang, ruang kreativitas, jejaring lintas daerah, peluang ekonomi digital, hingga kanal dakwah dan syiar nilai Aswaja.
Namun, ruang digital juga menghadirkan tantangan berupa hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, cyber bullying, penipuan daring, judi online, pinjaman ilegal, hingga penyalahgunaan data pribadi.
“Transformasi digital membuka peluang besar, sekaligus menghadirkan risiko yang menyasar generasi muda lebih dulu. Karena itu, yang dibutuhkan bukan hanya kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kecakapan untuk menggunakannya secara bijak dan bertanggung jawab,” paparnya.
Data yang dipaparkan menunjukkan, pengguna internet Indonesia pada 2025c mencapai 229,4 juta orang dengan tingkat penetrasi 80,66 persen. Dari jumlah tersebut, 25,54 persen pengguna berasal dari kelompok Gen Z.
Sadjan menilai, tingginya akses masyarakat terhadap teknologi perlu diikuti peningkatan kualitas penggunaannya. Materi yang disampaikan mencatat skor pilar pemberdayaan hanya 34,32, sedangkan pilar literasi digital berada pada angka 49,28.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perlu ada upaya bersama agar masyarakat tidak hanya terkoneksi secara digital, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi secara berkualitas.
“Akses digital kita sudah semakin luas, tetapi tantangannya adalah bagaimana memastikan teknologi benar-benar digunakan untuk belajar, berkarya, dan memberdayakan diri, bukan hanya untuk konsumsi dan hiburan,” ujar Sadjan.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian dalam forum tersebut adalah derasnya penyebaran informasi di media sosial.
Para peserta diajak membangun kebiasaan melakukan verifikasi sebelum membagikan informasi, terutama terhadap konten yang memancing emosi atau mengandung klaim yang belum jelas kebenarannya.
Sadjan memperkenalkan lima langkah sebelum menekan tombol bagikan, yakni berhenti sejenak, memeriksa sumber, mencari pembanding dari sumber kredibel, menguji bukti, dan memutuskan untuk tidak menyebarkan informasi apabila masih terdapat keraguan.
“Prinsipnya sederhana: verifikasi dulu, baru bagikan. Kecepatan bukan ukuran kebenaran.”
Selain literasi informasi, forum juga membahas keamanan digital yang dekat dengan kehidupan pelajar. Ancaman tersebut meliputi phishing, pembajakan akun, penipuan dan judi online, kebocoran data pribadi, hingga kekerasan berbasis gender secara daring.
Karena itu, peserta didorong membangun kebiasaan keamanan digital, seperti menggunakan kata sandi yang berbeda untuk setiap akun, mengaktifkan autentikasi dua faktor, menjaga kerahasiaan OTP, mengurangi oversharing, memeriksa izin aplikasi, dan merawat jejak digital.
“Data pribadi adalah amanah. Karena itu, kita perlu menjaga apa yang kita bagikan, kepada siapa kita memberikan akses, dan jejak apa yang kita tinggalkan di ruang digital.”
Tidak hanya membahas kecakapan teknis, materi tersebut juga mengaitkan penggunaan teknologi dengan karakter kepemimpinan kader NU. Empat nilai Aswaja An-Nahdliyah, yakni tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal, diperkenalkan sebagai kompas perilaku generasi muda di ruang digital.
Nilai tersebut diterjemahkan dalam perilaku digital, seperti tidak mudah terseret ekstremitas opini, mempertimbangkan manfaat dan mudarat sebelum mengunggah, menghargai perbedaan pendapat, serta berani meluruskan hoaks dan membela korban perundungan.
“Pemimpin muda hari ini diuji bukan hanya di forum rapat, tetapi di kolom komentar. Tenang saat diprovokasi, jujur saat salah, dan berpihak pada yang lemah,” pungkasnya.
Editor : Indra












