Kuala Kapuas, pojokindonesia.com – Pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang digagas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Kalimantan Tengah, termasuk Kabupaten Kapuas, terhambat kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Jarak pandang yang rendah membuat penerbangan tidak dapat berjalan optimal, sehingga langkah pemadaman darat kini dijadikan prioritas utama.
Karena kondisi di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya tidak memenuhi syarat keselamatan penerbangan, pesawat OMC dialihkan beroperasi dari Bandara Syamsudin Noor Kalimantan Selatan dan Pangkalan Bun. Operasi perdana dari lokasi alternatif ini telah dilakukan menggunakan pesawat Cassa Caravan PK-SNK, menyasar wilayah Pulang Pisau, Kuala Kapuas, dan Palangka Raya.
Meski demikian, kondisi asap yang tebal masih menjadi kendala. BNPB bersama Pemerintah Daerah dan Kementerian Kehutanan sepakat memperkuat pemadaman darat sebagai fokus utama penanganan. BNPB menegaskan OMC akan terus dijalankan tanpa batas waktu selama BMKG mendeteksi potensi awan hujan untuk membantu meluruhkan kabut asap.
Merespons arahan tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kapuas, Pangeran S Pandiangan, S.Hut., MM., memimpin langsung tim gabungan posko darurat untuk melaksanakan operasi pemadaman di seluruh wilayah Kapuas. Ia juga menginstruksikan pendataan dan inventarisasi setiap titik kebakaran sebagai bahan laporan resmi.
“Penanganan karhutla dan kabut asap masih berlangsung hingga waktu yang belum ditentukan. Kami berharap modifikasi cuaca segera efektif dan hujan turun, sehingga dapat mengurangi luas kebakaran serta kabut asap yang mengganggu kesehatan warga,” ujar Pangeran.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan, mengingat musim kemarau belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Semua pihak diharapkan turut menjaga lingkungan demi keselamatan dan kesehatan bersama.uhkps












