Jangan Abaikan Amalan dan Ibadah Sunnah
Banjarmasin, pojokindonesia.com
Banyak amalan dan ibadah-ibadah sunnah dengan segala keutamaan atau fadilatnya yang Rasulullah saw contohkan dalam kehidupan sehari-hari, akan sangat merugi bagi siapa saja jika sampai mengabaikannya.
Ustadz H Aspihani Ansori Lc menyampaikan hal itu dalam tausiyah-nya pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw Sabtu pagi, (12/9/2026) di Langgar Ishlahul Mu’minin Jalan Pembina Banjarmasin.
Menurut dia, sangat banyak amalan dan ibadah sunnah yang bisa setiap muslim kerjakan dalam 24 jam dengan segala keutamaan atau kandungan pahala besarnya hingga ampunan yang akan Allah berikan dan bahkan sampai ada jaminan masuk surga.
“Misal,” ujarnya, “Ketika senja tiba, ada doanya, saat mau tidur terlebih dahulu berwudlu. Dalam berwudlu, ada sunah-sunnahnya pula, ada doa-doanya. Kemudian saat merebahkan diri, minimal membaca “Bismi-Ka Allahumma ahya wabi-Ka amutu; Ya Allah, dengan nama-Mu kami hidup dan dengan nama-Mu pula kami mati.”
Begitupun saat bangun tidur, hendakknya berzikir memuji Allah, “Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami kembali sesudah mati (tidur) kami dan kepada-Nya kami kembali. Alhamdulillahilladzi ahyana ba’da ma amatana wailaihinnusyur.”
Biasanya setiap bangun tidur mau ke toilet (WC), maka baca pula doa masuk WC, “Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari setan yang kotor lagi keji, Allahumma inni a’udzubi-Ka minal khubtsi wal khabaits” dan masuk dengan kaki kiri terlebih dahulu.
Ketika hendak melepas pakaian pun ada doanya, agar setan tak bisa melihat aurat.
Begitu keluar dengan kaki kanan terlebih dulu, kemudian membaca doa lagi, “Dengan ampunan-Munya Allah, segala puji bagi Allah yang melegakan perutku.kembali dan menyehatkan badanku. Ghufrana-Ka alhamdulillahilladzi adzhaba annil adza waafani.”
“Memakai pakaian juga ada zikirnya, kemudian misal bercermin, ada zikirnya, menyahut azan Allah janjikan masuk surga. Keluar rumah ada doanya, setiap langkah menuju masjid ada pahala dan keutamaannya, memakai wewangiaan pun sunat, masuk masjid dengan kaki kanan dan ada pula doanya. Sebelum duduk, berniat i’tikaf, dan kerjakan salat sunat tahhayyatul masjid,” beber jebolan Universitas al Azhar, Kairo itu.
Aspihani kemudian mengutip Hadits. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
رَكْعَتَانِ الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
“Dua rakaat fajar (shalat sunnah qobliyah Subuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR Muslim no 725)
“Bayangkan, itu baru salat sunnat subuhnya, lantas bagaimana dengan salat fardu subuhnya. Sementara, di dalam salat itu sendiri banyak pula terdapat sunat-sunatnya. Jadi kalau kita mau, nyaris setiap waktu kita meraup pahala sunnah dan ampunan Allah,” ungkap Aspihan.
Dengan begitu, lanjutnya, hidup senantiasa penuh dengan zikir, selalu ingat Allah, dan sekaligus membuktikan benar-benar cinta kepada Rasulullah saw dengan mengamalkan sunnah-sunahnya. Itulah muhibbin sebenarnya.
Tetapi dia mengingatkan, jangan lupa selalu bersyukur atas segala nikmat dan rahmat Allah. Misalnya, terima kasih ya Allah, alhamdulillah, berkat rahmat dan izin serta pertolongan-Mu, hamba bisa menunaikan salat dan ibadah-ibadah lainnya. Jika bukan karena pertolongan-Mu, hamba tak bisa berbuat apa-apa. “Begitu misalnya yang mesti kita ucap di mulut dan hati dengan ikhlas dan sebenarnya,” pungkas Aspihani. (kha)












