Berita

Ketua Dewan Pers: Media Sosial Geser Minat Baca, Tapi Kepercayaan ke Media Arus Utama Masih Tinggi

×

Ketua Dewan Pers: Media Sosial Geser Minat Baca, Tapi Kepercayaan ke Media Arus Utama Masih Tinggi

Share this article
Ketua Dewan Pers: Media Sosial Geser Minat Baca, Tapi Kepercayaan ke Media Arus Utama Masih Tinggi

Banten, pojokindonesia.com – Ketua Dewan Pers Prof.Dr. Komaruddin Hidayat menilai, industri pers nasional saat ini tengah berada di fase penuh tantangan.

Di te­ngah derasnya arus media sosial dan platform digital, minat masyarakat terhadap media arus utama mengalami penurunan signifikan. Namun demikian, tingkat kepercayaan publik terhadap pers mainstream untuk isu-isu penting masih tetap terjaga.

Menurut dia, pergeseran perhatian publik ke media sosial menjadi salah satu faktor utama menurunnya peminat pers konvensional.

“Media arus utama oleh sebagian masyarakat dianggap kurang menarik karena konten eks­klusif yang memuat kritik tajam dan perdebatan pro-kontra semakin berkurang. Sementara di media sosial, orang menemukan diskusi dan dialog, yang meski be­lum tentu benar, tetapi mampu memuaskan emosi. Karena saat ini publik cenderung lebih tertarik pada produk media yang sensasional,” tutur Komaruddin.

Namun yang menarik, kata Komaruddin, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap media arus utama masih relatif tinggi, terutama untuk isu-isu yang mendasar dan penting. Ia menilai publik masih menjadikan media mainstream sebagai rujukan utama. Ia mengakui, penurunan industri pers, khususnya media cetak, berlangsung cukup drastis.

Ia tidak menghafal jumlah percisnya, tapi ini bisa dilihat dari hampir seluruh media massa cetak mengalami penurunan oplah seiring berkurangnya minat baca ma­syarakat, yang menurutnya menjadi tantangan serius bagi pers.

“Daya tarik iklan juga ber­geser. Pemasukan iklan ke media cetak menurun tajam karena pembacanya menyu­sut,” ujar Komaruddin.

Kondisi tersebut terlihat dari semakin menyusutnya jumlah halaman dan ruang iklan di sejumlah surat kabar. Bahkan, banyak media cetak daerah terpaksa gulung tikar karena jumlah pelanggan yang terus mengecil.

“Dulu membaca koran menjadi rutinitas pagi. Se­perti Pikiran Rakyat di Jawa Barat atau Kedaulatan Rak­yat di Yogyakarta, masyara­katnya belum “sarapan” jika belum membaca koran. Se­ka­rang kebiasaan itu hampir tidak lagi terjadi,” katanya.

Tantangan Meski menghadapi tan­tang­an internal yang berat, Komaruddin menilai, kualitas insan pers tidak sepenuhnya mengalami penurunan. Namun, perubahan selera pasar turut memengaruhi karakter sajian media yang kini cenderung lebih dangkal dan sensasional.

Kehadiran kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), ungkap Komaruddin, membuat banyak produk be­rita menjadi seragam. Di sisi lain, media semakin jarang menyajikan laporan investigatif yang mendalam karena tingginya biaya produksi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *