Kolom Pakar
×

Share this article

Tamparan terhadap Dunia Pendidikan Tinggi di Indonesia
* Moral, Etika, dan Integritas Pimpinan Perguruan Dipertanyakan

Oleh: Prof Dr Drs Muzakkir Samidan SH MH MPd

Dunia pendidikan merupakan tempat lahirnya orang-orang bermoral, beretika, dan berintegritas tinggi.

Perguruan tinggi juga tempat orang belajar dan terdidik  untuk menjadi orang yang hidup bersinergi dengan kebenaran, keadilan, kejujuran, keluhuran budi pekerti, ketinggian akhlak, dan ketulusan jiwa.

Ketinggian ilmu menjadikan orang peka dengan berbagai kondisi orang lain untuk berbuat kebajikan, menolong sesama, penuh kasih sayang serta menjadi tempat orang untuk bertanya berbagai masalah dalam kehidupan. Beginilah semestinya semua orang yang berada di dunia perguruan tinggi.

Perubahan yang terjadi karena perkembangan ilmu dan teknologi serta kemajuan di segala bidang seharusnya tidak menggeser atau tergusur roh dan hakikat perguruan tinggi ke arah yang jahiliyah berupa kebrobrokan moral ataupun etika dan hilangnya integritas.

Tertangkap tangannya salah satu rektor pada tanggal 20 Agustus 2026 yang lalu oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang berstatus Rektor PTN Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto berinisial AS di Jakarta dan Purwokerto memperlihatkan kehancuran moral, etika, dan integritas para pimpinan perguruan tinggi.

Imbasnya adalah menjadi sebuah adegium bahwa terjadi kebrobrokan moral, etika, dan integritas para ilmuwan, karena rektor merupakan seorang dosen, maka ini tentu sangat memilukan. Dan ini tampaknya terus terjadi hampir setiap tahun ada penangkapan rektor oleh KPK di seluruh Indonesia.

Pimpinan perguruan tinggi kini terjebak, berada dalam pusaran korupsi dan manipulasi dengan berbagai model dan modus dalam jabatannya. Jika pelaku kejahatan korupsi sudah masuk ke ruang keilmuwan seperti perguruan tinggi, maka akibat yang timbul tentu jauh lebih besar dan mengerikan, karena bisa jadi lulusan perguruan tinggi, yaitu alumni akan mencontoh dan mengikuti apa yang oleh pimpinan perguruan tinggi lakukan. Pepatah mengatakan, jika guru kencing berdiri, maka murid kecing berlari.

Penangkapan Rektor PTN Universitas Jenderal Soedirman dengan belasan orang yang juga menyeret dua Wakil Rektor universitas tersebut dan juga yang terjadi pada setahun yang lalu, kiranya menjadi tamparan serius bagi semua pimpinan perguruan tinggi, agar berhenti melakukan kejahatan korupsi dan manipulasi.

Jangan karena perut sejengkal, rela mempertaruhkan marwah, moral, etika, dan integritas. Semua itu sangat memalukan dan tidak ada gunanya.

Harapan kita jelas, jadilah rektor yang bisa menjadi contoh dan panutan semua orang dan guru bangsa.

Sebagai dosen, saya pun merasa seperti meludah ke muka sendiri ketika berkaca dari penangkan Rektor Universitas Jenderal Soedirman tersebut, karena rektor universitas adalah dosen. Secara tidak langsung orang mulai bertanya, “Jika kejahatan bisa terjadi di perguruan tinggi, apa lagi yang mau kita harapkan?”

Perguruan tinggi tempat untuk mengajarkan, agar menjadi orang yang bermoral, beretika, berintegritas, dan orang-orang yang berakhlak mulia. Untuk itu kita sangat berharap ke depan, penentuan rektor pada perguruan tinggi manapun yang senat seleksi kiranya dengan sangat selektif dan ketat. Senat tidak boleh merasa takut dengan calon rektor yang akan direkomemdasikan, sekalipun sedang menjabat. Maka semua pimpinan dalam perguruan tinggi sebagai anggota senat tidak boleh merasa harus balas budi atau balas jasa untuk mengusung seorang calon rektor, merasa tidak enak karena mendapat jabatan atau karena sebab- sebab lain. Senat harus berani menolak calon yang terindikasi tidak bermoral dan tidak berintegritas, sekalipun teman dan sahabat.

Kepentingan perguruan tinggi lebih penting dan utama daripada calon rektor yang tidak bisa dipercaya sekalipun dekat dengan Jakarta.

Dengan kejadian penangkapan Rektor PTN Universitas Jenderal Soedirman oleh KPK, ini harus menjadi pelajaran penting untuk melakukan perubahan pada tata kelola di dunia perguruan tinggi dalam semua aspek, agar perguruan tinggi benar-benar kembali pada hakikatnya sebagai wadah mencetak dan melahirkan manusia yang bermoral, berbudi luhur, beradab, beretikan, berintegritas, dan yang berakhlak yang mulia. []

*) Prof Dr Drs Muzakkir Samidan SH MH MPd adalah Dosen dan Guru Besar IAIN Langsa, Aceh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *