Banjarmasin, pojokindonesia.com – Prediksi Badan Meteorologi dan Geofisika bahwa Kalsel akan mengalami kemarau panjang sekitar 6 sampai 7 bulan.
Mengantisipasi hal itu, Wakil Ketua Komisi II DPRD Kalsel, H Suripno Sumas mengatakan, pihaknya mengundang pihak terkait, sejauh mana kesiapan mereka mengantisipasi kemungkinan adanya kemarau panjang tersebut, khususnya masalah ketahanan pangan.
Dari Rakor Gabungan DPRD Kalsel, Balai Wilayah Sungai, dan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Pertanian dan KP) Kalsel itu terungkap, bahwa mereka telah sangat siap dan pangan Kalsel akan tetap aman.
Suripno Sumas mengatakan, dari pertemuan tadi, ada satu ekspose yang Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalsel sampaikan bahwa mereka sudah menyatakan siap menghadapi apabila di tahun 2026 ini terjadi kemarau panjang, sesuai dengan penjelaan dari pihak Badan Meteorologi dan Geofisika.
Langkah-langkah itu sudah mereka sampaikan melalui ekspose tadi. Dari situ kami mengharapkan nantinya ada dukungan dari Satuan Organisasi Perangkat Daerah (SOPD), termasuk Pemprov Kalsel.
Kedua, terkait dengan penanggulangan bencana. Untuk ketahanan pangan, Balai Wilayah Sungai telah memprogramkan pembangunan atau pembuatan bendungan, irigasi, dan embung di beberapa titik. “Itu sudah mereka programkan sejak 2025 hingga 2029,” sebutnya.
Artinya, lanjut Suripno, Balai Wilayah Sungai juga sudah mengantisipasi kemungkinan kekeringan dan kebanjiran.
Karena itu, apabila kedua program tesebut terwujud, maka insyaa Allah Kalsel pada 2029 nanti tak lagi ada masalah banjir.
Sementara itu, sambungnya lagi, Bulog Kalsel juga sudah mengantisipasi kebutuhan sembako bila kemungkinan terjadi, maka sampai degan November 2026 tetap aman.
Di tempat yang sama, Sekretaris Komisi II H Jahrian mengatakan, tentang bagaimana mengatasi kemungkinan bencana kemarau dan masalah banjir, menurutnya lebih dulu menekankan pada masalah El Nino.
Untuk mengatasi kemarau panjang ada beberapa cara dia menjelaskan. Pertama, kita harus memilih bibit unggul untuk pertanian. Walaupun sifatnya tahunan, seperti padi unggul zaman dulu itu, ada yang nemanya benih pandak, lemot, siam unus, dan siam keletek.
Bisa dikombinasikan dengan tanaman palawija lainnya, yang juga bisa menahan dan menampung air. Contohnya jagung, yang akarnya cukup kuat.
Kedua, untuk menahan air, bisa dengan menanam pohon gayam. Hidupnya pohon ini satu batang tetapi bisa melebar menutupi permukaan tanah.
Di sela-selanya itu bisa ditanami jagung. Kemudian pohon aren, juga bisa menahan air untuk menyiapkan air bagi pohon di sebelahnya.
“Saya tadi minta pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, kalau bisa tolong adanya laboratorium untuk penelitian pestisida. Apapun temuan masyarakat tentang pestisida, kecanggihan pestisida, dan pupuk, tolong diteliti di laboratorium tersebut, agar diketahui efektivitasnya.
Dia sebutkan, ketahanan pangan tersebut terletak pada bibit dan pengelolaan.
“Saya tambahkan pula, tentang banjir. Ada dua macam banjir: banjir rob, bawaan dari laut dan banjir dari hujan. Tanpa perbaikan sebuah alur, tidak mungkin semuanya bisa berhasil. Sekuat apapun bendungan, yang namanya air pasti bisa menembus ke tempat yang rendah,” katanya.
Kita di Kalsel, lanjutnya, posisi daratanya rendah, sehingga terus menerus menampung air.
Solusinya adalah pengerukan muara Banjar paling penting. Begitupun muara Kurau, dan muara Alalak. Setelah itu baru bisa kita bangun kanal, dam, normalisasi sungai, dan sebagainya. (kha)












