Berita

Ratusan Hektare Sawah di PPU Terbengkalai, Petani Pilih Berhenti Akibat Rugi dan Banjir Air Asin

×

Ratusan Hektare Sawah di PPU Terbengkalai, Petani Pilih Berhenti Akibat Rugi dan Banjir Air Asin

Share this article
Ratusan Hektare Sawah di PPU Terbengkalai, Petani Pilih Berhenti Akibat Rugi dan Banjir Air Asin

PENAJAM, pojokindonesia.com – Ratusan hektare sawah di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) kini dibiarkan terbengkalai. Banyak petani memilih berhenti menanam karena terus merugi dan menghadapi risiko gagal panen akibat banjir air asin yang merusak tanaman.

Data Dinas Pertanian (Distan) PPU mencatat, dari total 7.508 hektare luas baku sawah di wilayah itu, sekitar 779,6 hektare tidak lagi digarap. Lahan tersebut sebelumnya produktif, namun kini ditinggalkan karena berbagai kendala di lapangan.

“Sebagian besar lahan yang ditinggalkan karena hasil panen tidak sebanding dengan biaya tanam. Ada juga yang rusak karena air pasang asin dan minimnya infrastruktur pendukung,” kata Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Distan PPU, Gunawan, Kamis (15/5/2025).

Desa Babulu Laut di Kecamatan Babulu menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak. Ketika air laut pasang, air asin masuk ke area persawahan dan menyebabkan tanaman padi mati dalam hitungan hari. Kondisi serupa juga terjadi di Desa Gunung Makmur yang hampir setiap tahun dilanda banjir akibat struktur tanah yang rendah dan berlumpur.

Ia menilai, persoalan ini menunjukkan bahwa tantangan pertanian di PPU bukan hanya soal cuaca dan iklim, tetapi juga soal keberlanjutan ekonomi bagi petani.

“Kalau terus rugi, tentu petani enggan kembali menanam. Itu yang sedang kami coba cari solusinya,” terang Gunawan.

Distan PPU, kata dia, berupaya menghidupkan kembali sebagian lahan yang masih memungkinkan untuk ditanami. Salah satunya melalui program Brigade Pangan (BP), kelompok pelopor tanam padi yang mendapat dukungan alat dan modal dari Kementerian Pertanian.

“Untuk lahan yang masih bisa diselamatkan, akan kami dorong dikelola tim BP agar tetap produktif,” jelasnya.

Upaya ini menjadi langkah awal Pemerintah Daerah (Pemda) untuk menahan laju penurunan produktivitas pertanian, di tengah ancaman perubahan iklim dan tekanan ekonomi yang membuat petani semakin sulit bertahan.

“Kalau dibiarkan, lahan-lahan ini bisa benar-benar hilang fungsinya. Ini bukan hanya soal produksi beras, tapi soal keberlanjutan hidup petani di PPU,” tutupnya. (RAH/ADV)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *