PENAJAM, pojokindonesia.com, – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Penajam Paser Utara (PPU), Sujiati mendorong perbaikan tambak tidak harus selalu bergantung pada proyek pemerintah, gotong-royong antarpetani akan lebih efisien dan memperkuat kebersamaan.
“Kalau mindset-nya proyek, pasti besar. Tapi kalau kita bangun gotong-royong, biayanya bisa ditekan. Anggaran dari pemerintah kita jadikan stimulus, tapi semangat kebersamaan itu yang harus dihidupkan,” kata Sujiati, Rabu (30/04/2025).
Selama ini, kata dia, banyak program pembangunan di sektor perikanan dan pertambakan yang terhambat karena keterbatasan anggaran. Hal itu membuat masyarakat hanya menunggu bantuan dari pemerintah.
“Dengan itu kami mendorong untuk mengubah pola pikir dan kembali menghidupkan budaya gotong-royong, kebutuhan dasar seperti perbaikan pintu air tambak dapat ditangani lebih cepat dan murah,” ujarnya.
Sujiati mengungkapkan bahwa contoh konkret semangat gotong-royong ini mulai tampak di Babulu Laut, sebuah kawasan pesisir di PPU yang cukup aktif dalam kegiatan tambak.
Kata dia, para petani tambak bergotong-royong memperbaiki pintu tambak tanpa harus menyewa tukang atau menunggu bantuan resmi dari pemerintah.
“Kalau pintu tambak rusak, mereka saling bantu. Hari ini bantu saya, besok saya bantu yang lain. Itu sudah mulai tumbuh lagi. Ini yang ingin kita dorong agar menjadi budaya bersama,” terangnya.
Ia menekankan bahwa keterlibatan aktif masyarakat dalam pembangunan akan menciptakan rasa memiliki yang lebih besar terhadap fasilitas yang dibangun. Selain mempercepat proses, tentu ini juga menumbuhkan kemandirian dan memperkuat jalinan sosial antar warga.
Sujiati menilai, pendekatan gotong-royong ini sejalan dengan visi besar yang sedang digaungkan Presiden Prabowo Subianto, yakni menghidupkan kembali budaya gotong-royong sebagai kekuatan utama bangsa.
Ia percaya bahwa nilai-nilai tradisional seperti ini justru menjadi solusi dalam menghadapi tantangan pembangunan di daerah, khususnya di sektor perikanan tambak yang banyak bergantung pada infrastruktur dasar.
“Ini bukan sekadar soal teknis pembangunan. Ini soal membangun kembali semangat kolektif sebagai bangsa. Kalau kita bisa menumbuhkan kesadaran ini di desa-desa tambak, saya yakin hasilnya akan jauh lebih besar dari sekadar fisik pintu tambak,” jelasnya.
Sujiati berharap pola seperti di Babulu Laut bisa menjadi contoh bagi desa-desa tambak lain di PPU. Terlebih, untuk pemerintah daerah agar dapat mengalokasikan anggaran stimulus yang sifatnya mendukung swadaya masyarakat, bukan menggantikannya sepenuhnya.
“Peran pemerintah adalah sebagai fasilitator yang mendorong partisipasi, bukan sekadar pelaksana proyek. Kita ingin masyarakat jadi pelaku utama pembangunan, bukan sekadar penerima manfaat,” pungkasnya. (Rd/ADV)










