Beberapa tahun lalu, aku bersama istri dan anak-anak berlibur ke tanah kelahiranku, sebuah ibu kota kabupaten di pesisir pantai Kalimantan Tengah. Suatu malam, aku mampir ke rumah wakil bupati yang merupakan temanku sejak kecil hingga lulus SMA.
Kebetulan, malam itu di rumah wakil bupati sedang berlangsung rapat rahasia yang dipimpin langsung olehnya. Pesertanya terdiri atas sejumlah pimpinan partai politik, beberapa pengusaha, dan sejumlah pentolan pemuda.
Karena merupakan sahabat lama yang datang dari jauh dan diyakini tidak akan mencampuri urusan mereka, aku tetap dipersilakan hadir di tengah rapat tersebut.
Inti pembahasan rapat adalah menginventarisasi berbagai dugaan penyimpangan yang dilakukan bupati untuk kemudian dilaporkan kepada pihak berwenang.
“Pokoknya, bupati harus dijerat dengan hukum pidana dan kemudian terjungkal dari singgasananya,” kata salah seorang peserta.
Mengapa bisa demikian? Mengapa wakil bupati mencoba “menggunting dalam lipatan”? Mengapa ia berusaha sedemikian rupa menjatuhkan atasannya yang notabene merupakan pasangannya sebagai dwitunggal pimpinan daerah?
“Semua kekayaan daerah ini sudah dikangkanginya. Semua proyek dimonopolinya. Meski pengerjaannya bukan atas namanya, melainkan atas nama orang-orangnya,” kata wakil bupati dengan nada berapi-api.
Benarkah bupati daerah tersebut telah mengangkangi semuanya? Benarkah semua proyek dicaploknya? Entahlah. Aku sendiri tidak pernah berniat melakukan investigasi untuk mengetahui kebenarannya.
Meski demikian, dari sejumlah orang yang kutemui di pasar, musala, masjid, warung kopi, pelabuhan, dan sejumlah tempat lainnya, aku mendapatkan kesan bahwa persoalan yang sebenarnya terjadi adalah bupati dan wakil bupati sama-sama ingin menumpuk kekayaan melalui jabatan yang mereka sandang.
“Karena itulah mereka sudah lama tak lagi sejalan,” ujar seorang nelayan dengan senyum sumbang.
Dalam perjalanan pulang lima hari kemudian, melewati jalan darat yang penuh lubang dan bergelombang, pikiranku tak pernah lepas dari sosok bupati dan wakil bupati yang mendadak kaya setelah tiga tahun menjabat.
Aku terus bertanya-tanya, apa gerangan sebenarnya yang mereka inginkan?
Akhirnya, aku menyimpulkan bahwa baik bupati maupun wakil bupati di sana tampaknya tidak berniat memajukan tanah kelahiran demi meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat yang mereka pimpin.
Keduanya justru berlomba-lomba mengumpulkan harta hingga tak terhitung jumlahnya.
Lalu, apa sebenarnya yang mereka harapkan?
Di tengah pusaran pertanyaan itu, aku tiba-tiba teringat kisah Siti Hajar yang berlari bolak-balik sebanyak tujuh kali antara Bukit Shafa dan Bukit Marwa di Makkah. Apa gerangan yang dicari Siti Hajar dengan berlari bolak-balik sebanyak tujuh kali hingga kemudian menjadi bagian dari rukun sa’i?
Menurut kisah yang masyhur, kala itu Siti Hajar mencari air untuk putranya, Ismail. Dari Bukit Shafa, ia melihat seolah-olah ada genangan air di kejauhan. Ia lalu mengejarnya.
Namun, sesampainya di Bukit Marwa, yang ditemuinya hanyalah tanah tandus. Siti Hajar pun berbalik menatap ke arah Bukit Shafa dan kembali melihat seolah-olah ada genangan air yang sama di kejauhan. Ia kemudian berlari ke arah tersebut.
Namun, lagi-lagi yang dijumpainya hanya hamparan tanah tandus.
Begitu seterusnya. Siti Hajar terus berlari bolak-balik antara Shafa dan Marwa hingga tujuh kali. Setelah itu, barulah ia melihat air memancar di dekat Ismail, putranya, yang ditinggalkannya di antara Shafa dan Marwa.
Itulah mata air yang kemudian dikenal dengan nama Zamzam.
Lalu, apakah sebenarnya yang dilihat Siti Hajar dan menyerupai genangan air di antara Shafa dan Marwa?
Itulah fatamorgana.
Nah, kukira, kekayaan yang dikejar oleh bupati dan wakil bupati tadi tak lebih dari sebuah fatamorgana: tumpukan harta yang tak pernah jelas batas dan takarannya.
Mereka sebenarnya sudah kaya, tetapi tak juga merasa kaya.
Persoalannya, mereka tidak pernah berharap menemukan “mata air abadi” yang mampu menenteramkan jiwa.
Sebab, kekayaan yang dikejar tanpa batas sering kali justru menjauhkan manusia dari rasa cukup. Harta bisa memenuhi tangan, tetapi belum tentu memenuhi hati.
(alminhatta)












